Jumat, 11 Februari 2011

Hukum Perdata


Hukum Perdata

          Menurut cara mempertahankannya, hukum perdata termasuk hukum materiil dan menurut isinya, hukum perdata termasuk hukum privat atau sipil. Hukum Perdata adalah ketentuan yang mengatur hak-hak dan kepentingan antara individu-individu dalam masyarakat.

            Hukum perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan dan hubungan perseorangan dengan perseorangan yang lain. Hukum perdata di Indonesia dikodifikasikan dalam buku KUHPerdata (Kitab Undang-undang Hukum Perdata).

Berikut beberapa pengartian dari Hukum Perdata:

            1. Hukum Perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan hukum yang mengatur      hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang yang lain dengan menitik       beratkan pada kepentingan perseorangan
            2. Hukum Perdata adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur dan membatasi        tingkah laku manusia dalam memenuhi kepentingannya.
            3. Hukum Perdata adalah ketentuan dan peraturan yang mengatur dan membatasi kehidupan manusia atau seseorang dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan atau       kepentingan hidupnya.

            KUHPerdata bukanlah merupakan buatan asli Indonesia. KUHPerdata berasal dari BW (Burgelijke Wetboek), yakni dari Negara Belanda. KOnsep BW sendiri berasal dari Code Civil buatan Prancis. Begitu juga dengan Code Civil yang konsepnya sebenarnya berasal dari Kerajaan Romawi, yaitu Corpus Iuris Civilis.

            Mengapa terjadi demikian? Sudah kami sebutkan di halaman sebelumnya bahwa terjadinya hal tersebut dikarenakan adanya azas konkordasi. Azas konkordasi adalah azas yang berisikan bahwa ketentuan perundang-undangan negara penjajah berlaku pula di negara yang dijajahnya.

Sejarah Hukum Perdata

            Hukum perdata Belanda berasal dari hukum perdata Perancis yaitu Code Napoleon yang disusun berdasarkan hukum Romawi Corpus Juris Civilis yang pada waktu itu dianggap sebagai hukum yang paling sempurna. Hukum Privat yang berlaku di Perancis dimuat dalam dua kodifikasi yang disebut Code Civil (hukum perdata) dan Code de Commerce (hukum dagang). Sewaktu Perancis menguasai Belanda (1806-1813), kedua kodifikasi itu diberlakukan di negeri Belanda yang masih dipergunakan terus hingga 24 tahun sesudah kemerdekaan Belanda dari Perancis (1813).
Pada Tahun 1814 Belanda mulai menyusun Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Sipil) atau KUHS Negeri Belanda, berdasarkan kodifikasi hukum Belanda yang dibuat oleh MR.J.M. KEMPER disebut ONTWERP KEMPER namun sayangnya KEMPER meninggal dunia 1824 sebelum menyelesaikan tugasnya dan dilanjutkan oleh NICOLAI yang menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Belgia. Keinginan Belanda tersebut terealisasi pada tanggal 6 Juli 1880 dengan pembentukan dua kodifikasi yang baru diberlakukan pada tanggal 1 Oktober 1838 oleh karena telah terjadi pemberontakan di Belgia yaitu :
            1. Burgerlijk Wetboek yang disingkat BW [atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata-Belanda.
            2. Wetboek van Koophandel disingkat WvK [atau yang dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang]
            Kodifikasi ini menurut Prof Mr J, Van Kan BW adalah merupakan terjemahan dari Code Civil hasil jiplakan yang disalin dari bahasa Perancis ke dalam bahasa nasional Belanda

KUHP Perdata

            Yang dimaksud dengan Hukum perdata Indonesia adalah hukum perdata yang berlaku bagi seluruh Wilayah di Indonesia. Hukum perdata yang berlaku di Indonesia adalah hukum perdata barat Belanda yang pada awalnya berinduk pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang aslinya berbahasa Belanda atau dikenal dengan Burgerlijk Wetboek dan biasa disingkat dengan B.W. Sebagian materi B.W. sudah dicabut berlakunya & sudah diganti dengan Undang-Undang RI misalnya mengenai UU Perkawinan, UU Hak Tanggungan, UU Kepailitan.
Pada 31 Oktober 1837, Mr.C.J. Scholten van Oud Haarlem di angkat menjadi ketua panitia kodifikasi dengan Mr. A.A. Van Vloten dan Mr. Meyer masing-masing sebagai anggota yang kemudian anggotanya ini diganti dengan Mr. J.Schneither dan Mr. A.J. van Nes. Kodifikasi KUHPdt. Indonesia diumumkan pada tanggal 30 April 1847 melalui Staatsblad No. 23 dan berlaku Januari 1948.
Setelah Indonesia Merdeka berdasarkan aturan Pasal 2 aturan peralihan UUD 1945, KUHPdt. Hindia Belanda tetap dinyatakan berlaku sebelum digantikan dengan undang-undang baru berdasarkan Undang – Undang Dasar ini. BW Hindia Belanda disebut juga Kitab Undang – Undang Hukun Perdata Indonesia sebagai induk hukum perdata Indonesia.

Isi KUHPerdata

KUHPerdata terdiri dari 4 bagian yaitu :
1. Buku 1 tentang Orang / Personrecht
2. Buku 2 tentang Benda / Zakenrecht
3. Buku 3 tentang Perikatan /Verbintenessenrecht
4. Buku 4 tentang Daluwarsa dan Pembuktian /Verjaring en Bewijs

Hukum Perdata Indonesia

            Salah satu bidang hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki pada subyek hukum dan hubungan antara subyek hukum. Hukum perdata disebut pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnya.
            Ada beberapa sistem hukum yang berlaku di dunia dan perbedaan sistem hukum tersebut juga mempengaruhi bidang hukum perdata, antara lain sistem hukum Anglo-Saxon (yaitu sistem hukum yang berlaku di Kerajaan Inggris Raya dan negara-negara persemakmuran atau negara-negara yang terpengaruh oleh Inggris, misalnya Amerika Serikat), sistem hukum Eropa kontinental, sistem hukum komunis, sistem hukum Islam dan sistem-sistem hukum lainnya. Hukum perdata di Indonesia didasarkan pada hukum perdata di Belanda, khususnya hukum perdata Belanda pada masa penjajahan.
Bahkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer.) yang berlaku di Indonesia tidak lain adalah terjemahan yang kurang tepat dari Burgerlijk Wetboek (atau dikenal dengan BW)yang berlaku di kerajaan Belanda dan diberlakukan di Indonesia (dan wilayah jajahan Belanda) berdasarkan azas konkordansi. Untuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, BW diberlakukan mulai 1859. 4

Selasa, 04 Januari 2011

Tahun Baru dan Reformasi PSSI

Jakarta - Tahun Baru kembali lagi harapan dan cita-sita masa lalu masih dapat diraih di tahun selanjutnya. Momentum ini sepatutnya menjadi refleksi kerja untuk masa depan yang lebih baik. Sepakbola Indonesia kembali mendapat perhatian publik. PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) adalah organisasi yang dituntut pertanggungjawaban dalam membina dan memajukan prestasi sepakbola Indonesia.

Kekalahan timnas Indonesia di final Piala AFF 2010 melawan Malaysia bukanlah sejarah akhir perjuangan sepakbola Indonesia. Timnas dengan para pemain yang penuh dengan semangat baru, baik pemain naturalisasi ataupun pemain asli Indonesia harus kita apresiasi sejak 19 tahun lamanya sepakbola Indonesia bermain tanpa prestasi. Skuad Garuda harus terus didukung dengan terus meningkatkan dukungan materil maupun moril.

PSSI  yang sejak lama dipimpin oleh para kaum tua harus segera dilakukan pembenahan. Kepemimpinan "status quo" sudah saatnya berganti dengan profesionalisme kerja. Beberapa kejadian opportunisme partai politik muncul menjadi penghambat tumbuhnya timnas Indonesia untuk maju atas nama bangsa Indonesia. Hal-hal yang terjadi seperti Nurdin Halid sebagai ketua PSSI yang memasang baliho gambar diri di Bukit Jalil merupakan hal yang tidak substansial dalam memberi dukungan ke timnas.

Nurdin yang lekat dengan partai Golkar dan mengajak para pemain timnas sowan ke kediaman Aburizal Bakrie adalah tindakan yang tidak lazim sebagai ketua federasi sepakbola. Opportunisme parpol semakin kuat ketika para pemain dieksploitasi dengan beberapa jamuan kunjungan ke tokoh politik negeri ini. Seharusnya PSSI sama-sama sadar bahwa masyarakat tidak akan menilai prestasi sepakbola di kaitkan dengan hubungan kepentingan Parpol.

Narsisme para tokoh politik negeri ini sangat terlihat ketika PSSI membuka peluang keuntungan tiket Final. SBY yang memiliki otoritas sebagai seorang pemimpin bahkan tidak dapat berbuat banyak dan hanya mampu mengimbau PSSI untuk tidak menaikkan tiket final. Aburizal Bakrie pun ikut andil mengambil momentum untuk meminta diturunkannya harga tiket akibat kerakusan PSSI yang untung miliaran.

Di beberapa surat kabar juga terjadi beberapa hal yang tidak substansif terkait dengan banyaknya politisasi citra atau "cari muka" di momentum sepakbola. Tokoh-tokoh Parpol lain yang juga "mejeng" di Bukti Jalil antara lain Hatta Radjasa (PAN), Ical, dan bahkan Presiden SBY dengan spanduk berwarna biru.

Nasionalisme sepertinya hanya dimiliki oleh para pemain dan suporter di negeri ini. Prestasi Parpol sebagai pemain di "Liga Demokrasi" selama ini tidak mencerminkan prestasi yang baik. Prestasi "tim Parpol" seharusnya tidak mencampuri timnas yang berkembang baik dan berusaha memajukan bangsa ini. Pengakuan Nurdin bahwa bukan SBY yang menyuruh saya menurunkan harga tiket tetapi Ical adalah penghianatan seorang profesional yang tunduk oleh otoritas politisi.

PSSI sebagai organisasi sepakbola nasional seharusnya lebih baik dalam menjalankan fungsi dan peran kongkret dalam memberikan prestasi di kompetisi domestik. Sedangkan "Liga Demokrasi" yang tidak mendapat apresiasi yang layak dan kehilangan citra di masyarakat seharusnya sadar dan membenahi diri masing-masing dengan prestasi kemenangan dengan gol welfare state. PSSI harus tegas dalam menjalankan fungsinya dalam memajukan sepakbola bangsa ini.

PSSI harus membersihkan diri dari para pengurus yang terlibat aktif dengan para elit politik yang mencoba menghegemoni citra dan prestasi sepakbola nasional. Kasus seperti Nurdin adalah contoh ketidakprofesionalan seorang pemimpin di organisasi yang seharusnya berjuang atas nama bangsa bukan pemimpin parpol. Bangsa ini butuh politisi dan negarawan yang berjuang bukan atas nama golongan. Perlu bagi kita semua untuk andil ide dalam membenahi PSSI agar mampu mengfungsikan diri sebagai organisasi yang layak memajukan sepakbola Indonesia.

Pertama, PSSI harus dibersihkan dari para pengurus yang selalu tunduk dan terhegemoni oleh kepentingan parpol. Pengurus PSSI adalah mereka yang mau berjuang sepenuhnya bukan atas nama tokoh tertentu dan bermain citra di depan layar media. Masyarakat indonesia adalah masyarakat yang lambat laun semakin cerdas menilai mana kepentingan atas nama kelompok atau bangsa. Pembersihan pengurus yang penuh dengan karakter opportunis ini diharapkan mampu menjaga pengaruh buruk dari parpol yang haus citra positif di depan rakyat Indonesia dan membersihkan PSSI dari conflic of interest (konflik kepentingan) berbagai pihak.

Kedua, pemerintah bersama program PSSI harus mampu memaksimalkan anggaran yang dimiliki secara efektif dan efisien. Selama ini PSSI seharusnya berterimakasih dengan kemandirian sepakbola daerah yang menolong peran PSSI dalam menjaring bakat pemain daerah. Industri mulai sangat diperhitungkan menjadi kemandirian ekonomi bagi sepakbola negeri ini. Mulai dari kebutuhan organisasi suporter, para anggota mania tim di daerah sampai produksi atribut timtelah menjadi industri yang sangat menguntungkan.

Selain itu dana, dari perusahaan yang siap mensponsori tim adalah modal ekonomi yang akan akan menjadi salah satu faktor mamajukan sepakbola kita. Kita juga menyadari para kapitalis asing memanfaatkan para buruh di Indonesia untuk dipekerjakan membuat produk mulai dari seragam, sepatu sampai atribut  internasional di produksi di Indonesia. Dari produk Nike dan Adidas yang dijual mahal di internasioanal, dalam kenyataannya buruh Indonesia menjadi sumber daya manusia penyumbang keuntungan terbesar perusahaan tersebut. Upaya pemerintah menata ulang kebijakan para investor negeri ini dan mereformasi PSSI dengan pengurus yang profesional adalah kunci untuk memajukan sepakbola indonesia.

Di Tahun Baru ini sepakbola negeri ini mulai menampakkan kebangkitannya secara alami dan nyata. Sudah selayaknya para pemimpin negeri ini menyambut dan memberi apresiasi yang lebih terhadap prestasinya. Semangat Garuda akan menjadi spirit baru bagi kebanggan indonesia di kancah nasioanal. Semangat tahun baru menjadi semangat untuk mereformasi PSSI dan manajemen dan sistem sepakbola indonesia. Garuda di Dadaku, karena kita yakin suatu hari nanti pasti menang. Selamat Tahun baru 2011 tetap semangat bergerak tuntaskan perubahan!

Demi Sepakbola, Titik!

Jakarta - Perubahan itu mutlak harus terjadi. Perubahan ke arah yang lebih baik. Tujuannya hanya satu: demi sepakbola nasional yang lebih baik.

Kamis 27 November 2008 rumah di bilangan Cibubur itu tampak sepi. Tak tampak pemiliknya. Rumah beratap hijau itu belum mau menerima tamu wartawan sehingga para penjaganya hanya bisa mengizinkan mereka yang meminta komentar si pemilik menunggu di luar.

"Bapak saat ini sedang beristirahat. Kelihatannya dia kelelahan dan tampak kurang sehat. Kami tak bisa kasih izin karena kami tak mendapatkan instruksi," tukas salah seorang petugas keamanan.

Hari itu adalah hari ketika Nurdin Halid, si pemilik rumah, keluar dari Rutan Salemba pada pukul 06.00 pagi. Sudah lebih dari dua tahun hari itu berlalu --sudah cukup lama pula artinya. Namun, sejak saat itu kritikan dan desakan agar dirinya mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI berlangsung.

Bahkan sebenarnya seruan itu sudah bergaung lebih lama, sejak Nurdin masih mendekam di dalam ruang tahanan. Alasannya jelas, di lihat dari sisi mana pun tidak etis dan tak pantas sebuah federasi sepakbola nasional dipimpin seseorang yang berada di dalam tahanan.

Tapi mau bilang apa, kritik dan desakan itu dianggap angin lalu. Nurdin masih tetap memimpin PSSI sampai hari ini. Kongres Sepakbola Nasional yang diprakarsai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hampir setahun silam tak mampu mendongkelnya. Nurdin masih tetap di kursinya.

Jangan salahkan siapa-siapa kalau kini muncul banyak gerakan perlawanan terhadap Nurdin dan PSSI-nya. Ketika tim nasional yang tampil sepenuh hati di Piala AFF dipuja-puja, Nurdin dan PSSI-nya dilarang untuk kecipratan pujian. Mereka tetap dihantam kritik.

Seruan di dunia-dunia maya bermunculan. Semuanya satu suara, suara yang hampir sama seperti dua tahun lalu: Nurdin harus mundur!

Itu baru seruan. Dalam langkah konkret dan nyata, perlawanan itu muncul, salah satunya, dalam sebuah bentuk kompetisi baru bernama Liga Primer Indonesia (LPI). LPI menjanjikan sebuah kompetisi yang sarat akan perubahan: klub yang tak dibiayai APBD, wasit asing agar permainan lebih teratur dan terutama penegakan fair play.

Janji perubahan yang bagus, dan layak untuk dinantikan apakah LPI mampu memenuhi janjinya itu.

Masalah mulai muncul ketika PSSI tak setuju dengan munculnya LPI. Klub-klub yang membelot diancam dikenai sanksi. Pemain-pemain timnas yang bermain di sana pun tak lepas dari sorotan mereka. Bagi mereka hanya ada satu kompetisi yang sah: Liga Indonesia, termasuk di dalamnya adalah ISL.

PSSI pun mulai mengeluarkan dalil-dalil dan berbagai macam peraturan, termasuk di dalamnya bahwa LPI tak akan diakui oleh AFC. Tapi pedulikah LPI terhadap semua itu? Tidak.

LPI lahir dengan dana sendiri, klub sendiri dan para penontonnya sendiri (kelak). Sejauh ini mereka tak meminta juara dari kompetisinya bermain di kompetisi AFC. Anggap saja LPI adalah turnamen "antarsekolah", yang mereka lakukan hanyalah ingin memberikan sebuah kompetisi yang layak dan bisa memajukan sepakbola Indonesia.

"Beginilah sepakbola Indonesia, saya kira, seharusnya," ujar Arifin Panigoro, sang pencetus LPI, dalam peluncuran resmi kompetisi tersebut beberapa waktu silam.

Saya pribadi tak membela LPI. Tidak juga pro ISL. Buat saya, asal dua-duanya bisa bagus dan lebih bagus, tidak masalah. Yang harus diuntungkan cuma satu: sepakbola itu sendiri!

Harapan dengan munculnya LPI adalah ISL mendapatkan sentakan moral sehingga mereka mau berbenah ke arah yang lebih baik. Kalau kedua kompetisi ini berjalan dengan baik, tentunya mutu sepakbola nasional akan terangkat naik. Pemain-pemain yang dihasilkan oleh kompetisi tersebut juga lebih baik. Ujung-ujungnya, kualitas tersebut, idealnya, bisa menular kepada tim nasional--yang tentunya diharapkan bisa menghasilkan sebuah prestasi.

Tapi lagi-lagi PSSI bertindak bebal. Mereka keukeuh bertahan dengan segala aturan hukum dan peraturan -- sesuatu yang biasa mereka abaikan ketika tengah berada di atas.

Kalau mereka bisa bicara peraturan dan tatanan hukum, ke mana mereka ketika Nurdin dipenjara? Saat itu, dan mungkin sampai saat ini bisa terus diulang-ulang, kita bisa saja berbicara, "Dari sisi moral, tak pantaslah seorang narapidana memimpin federasi dari balik jeruji, apalagi sang mantan napi itu masih memimpin sampai saat ini."

Ljungberg Lanjut di Celtic

Jakarta - Apa kabar Fredrik Ljungberg? Setelah dua musim berkelana di Amerika Serikat, gelandang asal Swedia itu kembali ke kompetisi Eropa. Klub terbaru yang akan dia bela adalah Celtic.

Kepastian bergabungnya Ljungberg dengan Celtic didapat setelah dia lulus menjalani pemeriksaan media, Kamis (30/12/2010) waktu setempat. Dikutip dari Reuters, eks pemain sayap Arsenal itu cuma diberi kontrak enam bulan atau hingga akhir musim nanti, dengan opsi perpanjangan jia performanya dianggap memuaskan.

Ljungberg akan diperkenalkan secara resmi pada media pada Jumat ini. Pesepakbola berusia 33 tahun itu bahkan sangat mungkin langsung dimainkan di Liga Skotlandia akhir pekan ini, saat Celtic menjalani laga sengit menghadapi Glasgow Rangers di hari Minggu.

Nama Ljungberg meroket saat dia membela Arsenal dalam kurun 1998 hingga 2007 dengan total telah menjalani lebih dari 200 pertandingan buat The Gunners di Liga Inggris. Mulai tersissih dari skuad Arsene Wenger dia kemudian sempat membela West Ham United dan menyeberang ke Amerika Serikat bersama Seattle Sounders dan Chicago Fire.

"Anda tak akan kehilangan kualitas yang Anda miliki. Dia mungkin tak sehebat dulu, tapi kita lihat saja bagaimana kemampuannya. Untuk periode yang panjang, dia pemain yang bagus, sangat berpengalaman, hanya sebuah keberuntungan dia berada di sini bersama kami," ungkap manajer Neil Lennon di Soccernet.

"Dia punya nama besar, tapi itu tak menjadi perhatian saya sejak lama. Adalah kualitas yang bisa dia datangkan ke klub, dan jika masih ada didapat, kami akan mengejarnya," lanjut Lennon.

Roberto Ayala Gantung Sepatu

Jakarta - Setelah 20 tahun berkarir di sepakbola profesional, Roberto Ayala akhirnya memutuskan untuk pensiun. Racing Club jadi klub terakhir yang dibela eks kapten timnas Argentina tersebut.

Seperti diwartakan Eurosport, Ayala telah menginformasikan keputusannya untuk gantung sepatu ini kepada pihak Racing. Namun bekas pemain Napoli, AC Milan, Valencia dan Real Zaragoza tersebut tak mau berkomentar di depan publik.

Ayala merupakan pemegang caps terbanyak kedua di timnas Argentina. Dengan koleksi 115 caps, dia hanya kalah dari Javier Zanetti yang mengumpulkan 138 caps.

Bek 37 tahun itu mengakhiri pengabdiannya di timnas Argentina dengan buruk. Dalam penampilan pamungkasnya bersama La Albiceleste, ia mencetak gol bunuh diri saat takluk 0-3 dari Brasil di final Copa America 2007.

Ayala tampil di dua edisi Piala Dunia, yakni tahun 1998 dan 2006. Sementara di Piala Dunia 2002, dia absen karena mengalami cedera dalam laga ujicoba melawan Nigeria.

Ayala juga ambil bagian saat tim U-23 Argentina merebut medali emas di Olimpiade 2004. Dia tampil sebagai salah satu dari tiga pemain berusia di atas 23 tahun yang boleh dimasukkan ke tim olimpiade.

Bersama Valencia, dia membantu El Che memenangi dua titel La Liga dan satu trofi Piala UEFA. Dia juga mengantar 'Kelelawar Mestalla' ke final Liga Champions tahun 2001 sebelum akhirnya kalah dari Bayern Munich lewat adu penalti.

Setelah melanglang buana di Eropa, Ayala akhirnya kembali ke tanah kelahirannya untuk memperkuat Racing mulai awal tahun ini. Sayangny

Mourinho Terbaik Versi IFFHS

Madrid Tahun 2010 memang layak disebut sebagai tahun sempurna Jose Mourinho. Satu lagi gelar sebagai yang terbaik dia sabet. Kali ini penghargaan itu didapat dari IFFHS.

Tahun lalu Mourinho berhasil mengantarkan Inter Milan untuk meraih treble winners. Selain itu pencapaiannya dengan menjuarai Liga Champions berhasil mengakhiri penantian Nerazzuri selama sekitar setengah abad untuk menjadi yang terbaik di kompetisi antarklub kasta tertinggi di Benua Biru tersebut.

Atas pencapaiannya itu, media Italia La Gazzetta dello Sport memberikan penghargaan Man of The Year kepada pelatih berkebangsaan Portugal tersebut.

Kini Mourinho kembali mendapatkan pengakuan, kali ini dari International Federation of Football HIstory & Satistics (IFFHS). Melalui situs resminya, IFFHS pada hari ini mengumumkan bahwa pria yang kini menukangi Real Madrid itu terpilih sebagai pelatih terbaik untuk tingkat klub di tahun 2010.

The Special One mengantongi 294 poin. Ia diikuti entrenador Barcelona Josep Guardiola (poin 188) dan trainer Bayern Munich Louis van Gaal (poin 75).

Dilansir dari situs resmi Madrid, ini adalah kali ketiga Mourinho mendapatkan penghargaan dari IFFHS setelah sebelumnya di tahun 2004 dan 2005.


10 Besar Pelatih Terbaik untuk Tingkat Klub 2010 versi IFFHS (www.iffhs.de)

No. Urut - Nama - Klub - Negara Asal - Poin

1. Jose Mario dos Santos Mourinho Felix - Inter Milan & Real Madrid - Portugal -294
2. Josep Guardiola - FC Barcelona - Spanyol - 188
3. Aloysius Paulus Maria "Louis" van Gaal - Bayern Munich - Belanda - 75
4. Quique Sanchez Flores - Atletico Madrid- Spanyol - 46
5. Carlo Ancelotti - Chelsea - Italia - 41
6. Sir Alexander Ferguson - Manchester United- Skotlandia -38
7. Arsene Wenger - Arsenal - Prancis - 33
8. Celso Juarez Rogh - SC Internacional Porto Alegre - Brasil -24
9. Roy Hodgson - Fulham & Liverpool - Inggris - 20
10. Lamine N'Diaye - TP Mazembe - Senegal -11

Piala Dunia 2022 di Musim Panas? Itu Gila

Jakarta - Ketidaksetujuan terhadap gelaran Piala Dunia 2022 di pertengahan tahun kembali muncul. Kali ini Phillipp Lahm yang menilai bila turnamen itu digelar di musim panas merupakan hal yang gila.

Secara tradisi, Piala Dunia digelar pada bulan Juni hingga bulan Juli, di mana ketika itu kompetisi antarklub telah berakhir. Namun tradisi itu bisa saja putus di tahun 2022.

Pasalnya banyak pihak yang menyatakan keberatannya bila Piala Dunia 2022, yang dilangsungkan di Qatar, digelar pada pertengahan tahun. Faktor cuaca menjadi sebab utama.

"Sungguh tidak menyenangkan menjalani musim panas dengan suhu di atas 40 derajat celcius. Tidak bisa saya bayangkan," ujar Phillipp Lahm dilansir dari Reuters.

Kapten timnas Jerman tersebut menyatakan bahwa menggelar Piala Dunia 2022 di pertengahan tahun merupakan hal yang gila. "Suhu di Qatar bakal mencapai 40 derajat celcius di malam hari dan kelembaban sangat tinggi. Kondisi itu benar-benar menguras tenaga dan itu gila," tandas Lahm.

Pemain berusia 27 tahun itu pernah memiliki pengalaman tampil di Timur Tengah, yakni saat memperkuat Jerman menghadapi Uni Emirat Arab di Dubai, Juni 2009. Ketika itu Der Panzer menang 7-2.

"Yang jelas saya gembira karena saya tidak perlu bermain di Piala Dunia 2022 sebagai pemain aktif," tuntas Lahm.

Sebelum Lahm, sejumlah pihak sudah menyatakan keberatan terhadap Piala Dunia 2022 bila digelar di pertengahan tahun, salah satunya asosiasi pemain profesional FifPro

Persoalan cuaca coba diantisipasi oleh panitia dengan rencana menyediakan stadion ber - AC