Rabu, 26 Desember 2012

Cara Mendeteksi Kecurangan (fraud) Akuntansi


Cara deteksi Kecurangan Akuntansi
Pendeksian atau cara mengetahui adanya  kecurangan akuntansi (fraud) mejadi hal yang penting untuk menjaga keberlangsungan suatu Entiti. Dengan adanya usaha pendekteksian ini maka diharapkan gejala kecurangan yang mungkin terjadi dapat didiagnosa yang kemudian dilakukan tindakan yang menuju pada pembenaran secara akuntansi. 
Pendeteksian terhadap kecurangan (fraud) akuntansi dapat di lakukan dengan mendeteksi indikasi kecurangan pada Akun atau elemen laporan keuangan dalam akuntansi dan pada User atau pihak pengguna atu pihak yang berkepentingan dengan Informasi akuntansi. Adapun penjelasan tentang pendeteksian kecurangan (fraud) akuntansi adalah sebagai berikut:

Pendeteksian Berdasarkan Akun Atau Elemen Laporan Keuangan

Amrizal  (2004)  menguraikan  garis  besar  cara  mendeteksi  kecurangan menurut ACFE adalah sebagai berikut: 
1.  Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud). 
Kecurangan  dalam  penyajian  laporan  keuangan  umumnya  dapat  dideteksi melalui analisis laporan      Keuangan sebagai berikut:
a. Analisis vertikal, 
yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase.
b. Analisis horizontal,
yaitu teknik untuk menganalisis persentase-persentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan.
c.  Analisis  rasio,
yaitu  alat  untuk mengukur  hubungan  antara  nilai-nilai  item dalam  laporan  keuangan  Sebagai  contoh  adalah  current  ratio,  adanya penggelapan  uang  atau  pencurian  kas  dapat  menyebabkan  turunnya perhitungan rasio tersebut
2.  Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)
Variasi pendeteksian kecurangan jenis ini sangat beragam. Pemahaman terhadap pengendalian  intern  atas  pos-pos  tersebut  akan  sangat  membantu  dalam mendeteksi kecurangan. Metode-metode yang bisa digunakan antara lain: 
a) Analiytical Review
Review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak biasaan atau kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan. 
b) Stastitical Sampling
Melakukan  sampling  atas  pos-pos  tertentu  yang  dicurigai,  misalnya persediaan.  Dokumen  dasar  pembelian  dapat  diuji  secara  sampling  untuk menentukan  ketidakbiasaan  (irregularities),  metode  deteksi  ini  akan  efektif jika ada kecurigaan terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu daftar alamat PO BOX akan mengungkapkan adanya pemasok fiktif 
c) Vendor or outsider Complaints
Komplain  /  keluhan  dari  konsumen,  pemasok,  atau  pihak  lain merupakan alat  deteksi  yang  baik  yang  dapat mengarahkan  auditor  untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. 
d) Site Visite – Observation 
Observasi  ke  lokasi  biasanya  dapat  mengungkapkan  ada  tidaknya pengendalian intern di lokasi-lokasi tersebut.
3. Korupsi (Corruption)
Kecurangan  ini  dapat  dideteksi  melalui  keluhan  dari  rekan  kerja  yang  jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke  perusahaan.  Atas  sangkaan  terjadinya  kecurangan  ini  kemudian  dilakukan analisis terhadap tersangka atau transaksinya.

Pendeteksian berdasarkan  User atau Pihak yang berkepentingan dengan Informasi akuntansi

Pendeteksian  terjadinya  praktik  kecurangan  bisa  dilakukan  dengan mengenali gejala-gejalanya antara lain: 
1. Gejala Kecurangan pada Manajemen
Umumnya agak sulit dideteksi, namun gejalanya dapat dikenali yaitu timbulnya ketidakcocokan  diantara  manajemen  puncak,    rendahnya  moral  dan  motivasikaryawan, Departemen akuntansi  kekurangan staf, tingkat komplain yang tinggi terhadap  organisasi/perusahaan  dari  pihak  konsumen,  pemasok,  atau  badan otoritas,  terjadi  kekurangan  kas  secara  tidak  teratur  dan  tidak  terantisipasi, menurunnya    tingkat   penjualan atau  laba  sementara utang dan piutang usaha meningkat, perusahaan mengambil kredit  sampai batas maksimal untuk  jangka waktu  yang  lama,  terdapat  kelebihan  persediaan  yang  signifikan,  terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun  buku. 
2.  Gejala Kecurangan pada Karyawan/Pegawai
Gejala kecurangan yang dilakukan oleh karyawan atau pegawai dapat dikenali antara lain yaitu pembuatan ayat  jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan  tanpa  perincian/penjelasan  pendukung,  melakukan  pengeluaran  tanpa dokumen  pendukung,  pencatatan  yang  salah/tidak  akurat  pada  buku jurnal/besar,  penghancuran,  penghilangan,  pengrusakan  dokumen  pendukung pembayaran, kekurangan barang yang diterima, kemahalan harga barang yang dibeli, munculnya faktur ganda, penggantian mutu barang (Sie Infokum, 2008).Perubahan  perilaku drastis  dari  individu  yang melakukan  kecurangan  bisa digunakan sebagai indikasi (Sie Infokum, 2008), antara lain yaitu 
1. Perubahan perilaku  secara  signifikan,  seperti:  easy going,  tidak  seperti  biasanya,gaya hidup mewah,  mobil atau pakaian mahal 
2.  Gaya hidup di atas rata-rata 
3.  Sedang mengalami trauma emosional di rumah atau tempat verja
4.  Penjudi berat 
5.  Peminum berat 
6.  Sedang dililit utang 
7. Temuan audit atas kekeliruan (error) atau ketidakberesan (irregularities) dianggap tidak material ketika ditemukan 
8.  Bekerja  tenang,  bekerja  keras,  bekerja  melampaui  jam  kerja,  sering  bekerja
sendiri.

Kesimpulan
Dari Penjelasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa Kecurangan (fraud) akuntansi dapat dideteksi sehingga dengan usaha pendeteksian tersebut dapat diambil tindak lanjut yang tepat untuk mempertahankan kelangsungan suatu entiti, adapun pendeteksian kecurangan (fraud) dapat dilakukan berdasarkan elemen laporan keuangan maupun berdasarkan user.
Demikianlah uraian singkat tentang pendeteksian kecurangan akuntansi dalam blog akuntansi pendidik, semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca

1 komentar:

Obat Kuat mengatakan...

Postingnya bagus dan Inspiratif. lanjutkan